SAHABAT..... CRISPY!
Terkadang jalan bersama menyusuri
kebun teh pinggir kota. Naik sepeda berboncengan. Dia tertawa, aku ikut
bahagya. Dia menangis, aku ikut sedih. Kapanpun, dimanapun, kami selalu kompak.
Hari-hariku indah bersamanya. Naya, dialah sahabatku satu-satunya. Aku kagum
padanya, karena Naya adalah anak yang pintar, baik, dan ramah kepada semua
orang.
Waktu itu kami sedang mengerjakan
soal yang diberikan oleh Pak Inggal. Naya sangat serius mencari jawabannya
hingga dia tidak menoleh sedikitpun padaku. Memeng, Naya lebih pintar dariku.
Tapi, aku selalu berusaha untuk menandinginya.
“Kring...kring...kring...” Bel waktu
istirahat berbunyi. Dan selesailah tugasku. Aku buru-buru memasukkan semua
bukuku yang berserakan di meja ke dalam ransel hitamku. Dan melesat keluar
kelas.
Aku mencari-cari minuman kesukaanku.
Minuman itu tak berwarna. Tapi menyehatkan tubuh. Yap!...Aqua. daripada
minum-minuman yang banyak mengandung pewarna da pengawet, lebih baik air putih,
kan? Lebih sehat.
Kantin sekolah memeng tak pernah
sepi. Apalagi saat jam istirahat. Semua murid berhamburan dan saling berebut
untuk mendapatkan semangkuk pangsit. Kalau keadaan sudah begini, nafsu makanku
langsung turun drastis.
Tak lama melihat kekacauan di kantin,
aku kembali ke kelas sambil menyedot sedikit airdalam aqua yang sedari tadi
kupegang.
“Hi, Nid?” Sapa orang seberang.
“Oh...hai...Dan,” Jawabku sambil
berhenti sejenak.
“Mau kemana?” tanya Danial.
“Mau ke kelas, ini baru beli minum.
Kamu sendiri mau kemana?” jawabku dan berbalik tanya.
“Ehm...aku? Aku mau ketemu
ka...enggak, aku juga mau ke kentin. Kamu kok sendirian, mana Naya?” tanyanya
kemudian.
“Naya tadi masih ngerjain tugasdikelas.
Kenapa? Kok cari Naya. Suka ya? Ha..ha..ha” tanyaku menggoda.
“Nggak aku cuma tanya aja. Yaudah,
aku ke kantin dulu ya. Bye...”
Aku melanjutkan perjalananku ke
kelas. Saat akan masuk, tiba-tiba tanganku di tarik dari belakang. Tubuhku
hampir jatuh. Entah siapa, aku langsung menoleh ke belakang.
“Argh! Santai dong Nay,” Sentakku
sambil meraoikan baju.
“Iya, ma’af. Aku cuma mau tanya
kok,” jawabnya santai.
“Tanya apa,” kataku sewot.
“Danial nanyain aku nggak?” tanyanya
malu.
“Iya. Memengnya kenapa?” tanyaku
heran.
“Nggak papa. Aku cuma senang aja.
Yaudah, masuk yuk,” ajak Naya.
Bukan lagi bisa ditebak. Tapi memeng
benar. Naya suka sama Danial. Wajahnya selalu berbinar-binar saat ada Danial.
Entah ada angin apa, Naya bisa suka sama Danial. Bagaimana tidak, sudah keren,
tampan, pintar, anak basket pula. Hmm...mungkin nggak ya aku juga suka.
***
Siang itu aku pulang dengan badan
lesu. Ayah dan ibuku kaget melihatku. Ibi sempat bertanya. Tapi akutak
menjawabnya. Aku langaung menuju kamar dan merebahkan tubuhku diatas tempat
tidur.
Keluargaku adalah keluarga
sederhana. Meski begitu, semua kebutuhanku terpenuhi. Ayah dan ibuku menetapkan
kariernya di bidang pendidikan. Mereka adalah orang tua yang sangat baik. Aku
sangat menyayangi keduanya. Dan kedua adikku.
Dirumah tak pernah sepi. Karena
adikku yang baru berusia dua tahun itu selalu mengisi setiap kekosongan dalam
rumah. Seringkali aku bertengkar dengannya. Tetapi sebenarnya aku sangat
menyanyayangi adikku.
***
“Yah, Bu, aku berangkat dulu.
Assalamu’alaikum,” pamitku sedikit keras.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati,”
remang-remang ku mendengar ibu menjawab.
Aku mengayuh sepedaku
kuat-kuathingga akhirnya sampai di sekolah. Masih sepi. Mungkin karena aku
datang terlalu pagi.
“Nida, iniada surat. Dari Timo,”
Kata Naya. Sambil menyodorkan amplop berwarna merah muda. Penasaran, aku
langsung membuka amplop itu. Dan ku baca tulisan pada kertas surat.
Dear Nida,
Rasaku yang tumbuh nyata
bukan semu, kokoh berakar kuat menjalar sampai perut bumi, berbatabg besar dan
berdaun rindang.
Rasa yang tak pernah
tumbang dan memberikan manfa’at adalah rasa sayangku padamu...
Danial
Aku tersenyum-senyum sendiri membaca
surat itu. Entah apa yang kurasakan. Aku memikirkan balasan apa nanti yang akan
ku berikan pada Danial. Aku menoleh ke arah Naya, yang saat itu sedang membaca
surat yang ku pegang. Namun, bukan jawaban yang ku dapat. Naya keluar dan
meninggalkanku dengan wajah sedih. Aku baru sadar kalau Naya suka sama Danial.
Pasti dia sakit banget saat membaca surat itu. Merasa bersalah, aku langsung
menyusul Naya.
“Nay, ma’afin aku,” pintaku sambil
duduk disamping Naya.
“Nggak papa kok Nid. Kamu harus
terima Danial,” balasnya sedih.
“Aku tahu, yang kamu katakan itu
bukan dari hati kamu. Tidak ada yang orang merelakan orang yang dicintainya
mencintai orang lain. Aku nggak akan menerimanya. Persahabatan kita lebih
penting dari apapun,” dengan tegar aku menyatakan pada Naya dan
meninggalkannya. Aku tak mau air mataku jatuh di depannya.
Sepulang sekolah aku langsung
menemui Danial. Aku akan berkata sejujurnya pada Danial.
Setelah menunggu sekian lama,
akhirnyadia keluar juga dari kelasnya.
“Danial,” Panggilku dengan nada
keras. Danial pun langsung berjalan menghampiriku.
“Ada apa Nid?” Tanya Danial.
“Aku udah terima surat dari kamu,
tapi ma’af...” belum selesai bicara tiba-tiba Danial menyela.
“Bentar dech. Surat apa? Aku nggak pernah nulis surat,” terang Danial.
“Tapi di surat itu ada nama kamu,”
kataku kaget.
“Siapa yang ngasih surat itu?”
tanyanya
“Naya, tapi Naya dari Timo,”
Jawabku.
“Timo? Ayo ikut aku.” Danial
langsung menggandeng tanganku dan menarikku. Aku tak tahu apa tujuan Danial.
Yang jelas, waktu itu aku sangat bingung.
“Timo,” Panggil Danial.
“Kenapa?” jawab Timo lembut sambil
melihat kearahku.
“Kamu kan yang nulis surat, terus
kamu kasihkan ke Nida? Jujur Tim,” Tanya Danial serius.
“Iya, toh aku juga nggak akan
marah,” kataku.
“Mana mungkin aku nulis surat konyol
itu,” jawab Timo remeh.
“Ngaku aja dech Lo. Ini udah kali
kedua kamu buat kesalahan yang sama. Aku tahu itu kamu Tim!” Kata Danial dengan
nada lantang. Wajah Timo sudah memerah. Marahnya semakin memuncak. Tak sengaja
aku melihat tangan Timo yang mengepal. Dan semakin lama Timo berusaha memukul
Danial. Dengan sergap aku mendorong Danial dan akhirnya...”BLAAK!” Aku jatuh tak
sadarkan diri.
***
Malam yang sunyi. Dinginnya menusuk
tubuhku. Aku berdiri di balkon kamarku dan melihat sekeliling. “AHWW!” Pipiku
sakit dan memar. Ini pasti akibat kejadian tadi siang.
Aku meraba saku bajuku. Dan
kutemukan apa yang ku cari. Aku mencari nomor seseorang di kontak Hp-ku.
Dan...ketemu.
“Halo...”
“Halo, ada apa Nid?” Tanya orang
dari seberang.
“Ma’afin aku ya...sekali lagi.
Ternyata surat itu bukan dari Danial. Tapi, dari Timo sendiri. Tenang aja.
Danial masih ada untukmu,” kataku meyakinkan.
“Ah....walaupun itu benar Danial,
aku nggak papa kok Nid. Tapi. Ya syukurlah kalau udah ketemu pelakunya.
Mendingan kita fokus aja ke pelajaran. Kita kan udah kelas tiga. Dari pada
cinta, lebih baik pelajaran, kan?” kata Naya dengan nada senang.
“Ide bagus!” sahutku tegas.
“Kita nggak akan ngecewain SMP CIPTA
KITA....ha..ha..ha...” kataku dan Naya serentak.
Kita pun kembali seperti dulu. Tak
ada lagi konflik diantara kita. Semua kita jalani dengan semangat bersama. Dan
menunggu masa putih abu-abu yang akan datang.