Minggu, 26 Februari 2012


SAHABAT..... CRISPY!

            Terkadang jalan bersama menyusuri kebun teh pinggir kota. Naik sepeda berboncengan. Dia tertawa, aku ikut bahagya. Dia menangis, aku ikut sedih. Kapanpun, dimanapun, kami selalu kompak. Hari-hariku indah bersamanya. Naya, dialah sahabatku satu-satunya. Aku kagum padanya, karena Naya adalah anak yang pintar, baik, dan ramah kepada semua orang.                                                                                                                     
            Waktu itu kami sedang mengerjakan soal yang diberikan oleh Pak Inggal. Naya sangat serius mencari jawabannya hingga dia tidak menoleh sedikitpun padaku. Memeng, Naya lebih pintar dariku. Tapi, aku selalu berusaha untuk menandinginya.
            “Kring...kring...kring...” Bel waktu istirahat berbunyi. Dan selesailah tugasku. Aku buru-buru memasukkan semua bukuku yang berserakan di meja ke dalam ransel hitamku. Dan melesat keluar kelas.
            Aku mencari-cari minuman kesukaanku. Minuman itu tak berwarna. Tapi menyehatkan tubuh. Yap!...Aqua. daripada minum-minuman yang banyak mengandung pewarna da pengawet, lebih baik air putih, kan? Lebih sehat.
            Kantin sekolah memeng tak pernah sepi. Apalagi saat jam istirahat. Semua murid berhamburan dan saling berebut untuk mendapatkan semangkuk pangsit. Kalau keadaan sudah begini, nafsu makanku langsung turun drastis.
                Tak lama melihat kekacauan di kantin, aku kembali ke kelas sambil menyedot sedikit airdalam aqua yang sedari tadi kupegang.
            “Hi, Nid?” Sapa orang seberang.
            “Oh...hai...Dan,” Jawabku sambil berhenti sejenak.
            “Mau kemana?” tanya Danial.
            “Mau ke kelas, ini baru beli minum. Kamu sendiri mau kemana?” jawabku dan berbalik tanya.
            “Ehm...aku? Aku mau ketemu ka...enggak, aku juga mau ke kentin. Kamu kok sendirian, mana Naya?” tanyanya kemudian.
            “Naya tadi masih ngerjain tugasdikelas. Kenapa? Kok cari Naya. Suka ya? Ha..ha..ha” tanyaku menggoda.
            “Nggak aku cuma tanya aja. Yaudah, aku ke kantin dulu ya. Bye...”
            Aku melanjutkan perjalananku ke kelas. Saat akan masuk, tiba-tiba tanganku di tarik dari belakang. Tubuhku hampir jatuh. Entah siapa, aku langsung menoleh ke belakang.
            “Argh! Santai dong Nay,” Sentakku sambil meraoikan baju.
            “Iya, ma’af. Aku cuma mau tanya kok,” jawabnya santai.
            “Tanya apa,” kataku sewot.
            “Danial nanyain aku nggak?” tanyanya malu.
            “Iya. Memengnya kenapa?” tanyaku heran.
            “Nggak papa. Aku cuma senang aja. Yaudah, masuk yuk,” ajak Naya.
            Bukan lagi bisa ditebak. Tapi memeng benar. Naya suka sama Danial. Wajahnya selalu berbinar-binar saat ada Danial. Entah ada angin apa, Naya bisa suka sama Danial. Bagaimana tidak, sudah keren, tampan, pintar, anak basket pula. Hmm...mungkin nggak ya aku juga suka.
                                                                        ***
            Siang itu aku pulang dengan badan lesu. Ayah dan ibuku kaget melihatku. Ibi sempat bertanya. Tapi akutak menjawabnya. Aku langaung menuju kamar dan merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
            Keluargaku adalah keluarga sederhana. Meski begitu, semua kebutuhanku terpenuhi. Ayah dan ibuku menetapkan kariernya di bidang pendidikan. Mereka adalah orang tua yang sangat baik. Aku sangat menyayangi keduanya. Dan kedua adikku.
            Dirumah tak pernah sepi. Karena adikku yang baru berusia dua tahun itu selalu mengisi setiap kekosongan dalam rumah. Seringkali aku bertengkar dengannya. Tetapi sebenarnya aku sangat menyanyayangi adikku.
                                                                        ***
            “Yah, Bu, aku berangkat dulu. Assalamu’alaikum,” pamitku sedikit keras.
            “Wa’alaikumsalam. Hati-hati,” remang-remang ku mendengar ibu menjawab.
            Aku mengayuh sepedaku kuat-kuathingga akhirnya sampai di sekolah. Masih sepi. Mungkin karena aku datang terlalu pagi.
            “Nida, iniada surat. Dari Timo,” Kata Naya. Sambil menyodorkan amplop berwarna merah muda. Penasaran, aku langsung membuka amplop itu. Dan ku baca tulisan pada kertas surat.

            Dear Nida,
                        Rasaku yang tumbuh nyata bukan semu, kokoh berakar kuat menjalar sampai perut bumi, berbatabg besar dan berdaun rindang.
                        Rasa yang tak pernah tumbang dan memberikan manfa’at adalah rasa sayangku padamu...
                                                                                                                        Danial

            Aku tersenyum-senyum sendiri membaca surat itu. Entah apa yang kurasakan. Aku memikirkan balasan apa nanti yang akan ku berikan pada Danial. Aku menoleh ke arah Naya, yang saat itu sedang membaca surat yang ku pegang. Namun, bukan jawaban yang ku dapat. Naya keluar dan meninggalkanku dengan wajah sedih. Aku baru sadar kalau Naya suka sama Danial. Pasti dia sakit banget saat membaca surat itu. Merasa bersalah, aku langsung menyusul Naya.
            “Nay, ma’afin aku,” pintaku sambil duduk disamping Naya.
            “Nggak papa kok Nid. Kamu harus terima Danial,” balasnya sedih.
            “Aku tahu, yang kamu katakan itu bukan dari hati kamu. Tidak ada yang orang merelakan orang yang dicintainya mencintai orang lain. Aku nggak akan menerimanya. Persahabatan kita lebih penting dari apapun,” dengan tegar aku menyatakan pada Naya dan meninggalkannya. Aku tak mau air mataku jatuh di depannya.
            Sepulang sekolah aku langsung menemui Danial. Aku akan berkata sejujurnya pada Danial.
            Setelah menunggu sekian lama, akhirnyadia keluar juga dari kelasnya.
            “Danial,” Panggilku dengan nada keras. Danial pun langsung berjalan menghampiriku.
            “Ada apa Nid?” Tanya Danial.
            “Aku udah terima surat dari kamu, tapi ma’af...” belum selesai bicara tiba-tiba Danial menyela.
            “Bentar dech. Surat apa?  Aku nggak pernah nulis surat,” terang Danial.
            “Tapi di surat itu ada nama kamu,” kataku kaget.
            “Siapa yang ngasih surat itu?” tanyanya
            “Naya, tapi Naya dari Timo,” Jawabku.
            “Timo? Ayo ikut aku.” Danial langsung menggandeng tanganku dan menarikku. Aku tak tahu apa tujuan Danial. Yang jelas, waktu itu aku sangat bingung.
            “Timo,” Panggil Danial.
            “Kenapa?” jawab Timo lembut sambil melihat kearahku.
            “Kamu kan yang nulis surat, terus kamu kasihkan ke Nida? Jujur Tim,” Tanya Danial serius.
            “Iya, toh aku juga nggak akan marah,” kataku.
            “Mana mungkin aku nulis surat konyol itu,” jawab Timo remeh.
            “Ngaku aja dech Lo. Ini udah kali kedua kamu buat kesalahan yang sama. Aku tahu itu kamu Tim!” Kata Danial dengan nada lantang. Wajah Timo sudah memerah. Marahnya semakin memuncak. Tak sengaja aku melihat tangan Timo yang mengepal. Dan semakin lama Timo berusaha memukul Danial. Dengan sergap aku mendorong Danial dan akhirnya...”BLAAK!” Aku jatuh tak sadarkan diri.
                                                                        ***
            Malam yang sunyi. Dinginnya menusuk tubuhku. Aku berdiri di balkon kamarku dan melihat sekeliling. “AHWW!” Pipiku sakit dan memar. Ini pasti akibat kejadian tadi siang.
            Aku meraba saku bajuku. Dan kutemukan apa yang ku cari. Aku mencari nomor seseorang di kontak Hp-ku. Dan...ketemu.
            “Halo...”
            “Halo, ada apa Nid?” Tanya orang dari seberang.
            “Ma’afin aku ya...sekali lagi. Ternyata surat itu bukan dari Danial. Tapi, dari Timo sendiri. Tenang aja. Danial masih ada untukmu,” kataku meyakinkan.
            “Ah....walaupun itu benar Danial, aku nggak papa kok Nid. Tapi. Ya syukurlah kalau udah ketemu pelakunya. Mendingan kita fokus aja ke pelajaran. Kita kan udah kelas tiga. Dari pada cinta, lebih baik pelajaran, kan?” kata Naya dengan nada senang.
            “Ide bagus!” sahutku tegas.
            “Kita nggak akan ngecewain SMP CIPTA KITA....ha..ha..ha...” kataku dan Naya serentak.
            Kita pun kembali seperti dulu. Tak ada lagi konflik diantara kita. Semua kita jalani dengan semangat bersama. Dan menunggu masa putih abu-abu yang akan datang.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar